Railways of Reminding
(oleh Adelia Aninda Putri)
Tempat ini menjadi saksi bisu perkenalan dan
pertemuan terakhir bagi kita. Apalah arti senyuman yang selalu kau berikan
dikala kesedihan melandaku? Apalah arti kerinduan yang selama ini kau umbar
padaku? Aku selalu berpikir semua ini adalah kesalahanku, memutuskan apa yang
seharusnya tak aku lakukan. Sepertinya, kau akan selalu pergi dariku. Di
belakang palang rel kereta api ini aku masih memikirkan apa yang telah aku
perbuat terhadapmu, ini bukan yang aku inginkan, di manakah dirimu? Aku tahu
kau sudah tidak bisa mendengarkanku. Ketika palang kereta masih menahan, aku melihat
bayangmu dalam kereta, tidak perlu pikir panjang aku langsung berlari menuju
stasiun.
Setibanya di sana kereta yang aku cari sudah
meninggalkan stasiun ini, aku berlari menyusuri setiap sudut stasiun, aku tak
menemukan apa yang aku cari menyedihkan aku sangat menyedihkan. Dalam keramaian
yang mengusik ragaku ini aku melihat bayangnya lagi, aku berusaha mengelak
desakan orang-orang yang baru saja keluar dari gerbong kereta, selepasnya aku
dari desakan tadi aku meliat sekitarku dan aku bertanya-tanya.
"Dimana kau? Aku ingin mengatakan
sesuatu, apakah tak mungkin lagi bagiku untuk mengatakannya padamu?"
Hatiku bergejolak ingin menangis. Aku
seperti kalah sebelum berperang, sangat memalukan. Aku keluar dari stasiun, aku
melayang dalam lamunanku dan tak sengaja menabrak seorang pemuda, aku pun
terbangun dari lamunan dan menarik nafas dalam, air mataku dengan sendirinya
keluar. Aku pun tak bisa menahannya terlalu sakit untuk ditahan, tanpa sadar
aku memeluk pemuda itu yang tak lain Hiroyuki Kazuto, Kazu-kun ada di hadapanku tetapi ia seperti tak mengenaliku, dia tidak
membalas pelukan yang aku berikan. Perlahan aku melepaskan tanganku dari bahunya.
Aku terdiam dia hanya melihatku dengan tatapan bingung, aku segera berdiri dan
meminta maaf.
"Sumimasen!"
Mataku
terpejam ketika aku menundukkan kepala dan segera pergi dari tempat itu. Aku
tidak melihat wajah pemuda itu, aku ketakutan dan merasa hina. Lalu aku
berhenti di sebuah mini market, rasa dahagaku mulai memuncak karena lari dan
rasa tegang tadi.
Sepulangnya aku dari mini market aku duduk
sebentar di taman untuk merenungkan kejadian tadi, tak lama kemudian seorang
pemuda memakai jaket biru donker menghampiriku, ia berkata.
"Hei, ini milikmu kan?" Ia
mengembalikan gantungan kunciku yang sepertinya tadi terjatuh.
"Ya benar, ini milikku." Aku
melihat wajahnya tak salah dia adalah Kazu-kun.
"Kazu-kun apakah kau mengenalku? Ini aku Akiko, Sawano Akiko." Aku
langsung bertanya, basa basi sudah tak diperlukan, aku melihat kebingungan dari
raut wajahnya, ia berkata.
"Sawano Akiko? Ini pertama kalinya aku
bertemu denganmu. Maaf ya atas kejadian tadi."
"Pertama kalinya? Tetapi kita selalu
menghabiskan waktu bersama. Dari mana saja kamu?" Dengan nada merendah aku
ingin memastikannya bahwa aku tak salah.
"Dari mana? Aku dari Sapporo. Bagaimana
denganmu? Apakah kamu warga lokal disini?"
“Ya, tentu saja.”
Aku masih tak percaya aku masih bersiteguh
bahwa ia adalah Kazu-kun yang selama
ini aku kenal, aku terdiam sejenak memainkan jemariku diatas bangku mengalihkan
bola mataku ke arah pohon sakura yang mengering.
"By
the way namaku Koushiro Ikuto, yoroshiku
Sawano-san. Uhm, aku harus pergi
sekarang, see you." Dia
meninggalkanku di taman aku tersenyum pahit dan mengangguk seakan menyetujui
keputusannya.
"kreekkk, kreekk" Suara tanganku
meremas kaleng soda merunduk dan kembali menyesal. Aku yang selama ini bodoh mengingat,
menangisi, mencari, menggapaimu kembali adalah hal yang mustahil yang ada hanya
kehilangan sosokmu aku rasa ini hanya fantasi semata yang belum bisa aku
sembuhkan dengan berbagai macam ramuan atau sihir cinta.
“Tadaimasu”
“Okaeri
Akiko nee-chan. Maukah kakak menemaniku
bermain setelah makan malam?”
“Uhm, maaf Akicha mungkin lain waktu ya,
besok aku ada tes. Dimana Oka-san dan
Otou-san? Akankah mereka pulang malam
ini?”
“Mereka tidak pulang. Oka-san meneleponku sebelum nee-chan
pulang, mereka mempunyai urusan yang harus dikerjakan dan Oka-san bilang mereka akan pulang ke rumah secepatnya.”
Aku melihat wajah sedih Akicha, adikku yang
selalu setia menunggu Ayah dan Ibu pulang. Semenjak Ayah menduduki kursi CEO
perusahaan ternama di Osaka, Ibu ikut menemani Ayah bekerja karena beliau
terkadang kelelahan sehingga jatuh sakit. Sehingga aku, Akicha, dan dua orang
bibi yang ada di rumah.
Sesampainya aku di kamar seusai makan malam
aku langsung menjatuhkan diriku ke atas kasur yang begitu memikat hati, tak
sempat aku untuk membersihkan diri segera kuambil buku Sastra Jepang milikku,
tetapi. Brrrt, brrrt, brrrt suara handphone
terasa bergetar di atas meja belajarku. Saat kudapati e-mail pemberitahuan
bahwa akun e-mail milikku telah ditambahkan ke dalam kontak seseorang bernama
Koushiro Ikuto, tersentak kaget mataku tak bisa berpaling dari layar handphone dan aku tak bisa mengembalikannya
pada menu layar utama, aku masih terdiam mecoba berpikir logis, ini bukan
fantasi aku tak bisa menghilangkannya begitu saja? Kami-sama kumohon apakah ini hukuman untukku yang lari dari
kelamnya masa lalu.
Keesokan
harinya aku melewatkan jam sarapan pagi, aku langsung bergegas mengambil
sepasang sepatu hitamku dan pergi ke pusat uji coba masuk perguruan tinggi.
“Ittekimasu!”
Kubuka
pagar rumah dan berlari kecil menuju stasiun Yodoyabashi, walaupun jarak antara
rumah dan stasiun bisa dibilang cukup memakan waktu apa boleh buat ini memang
jalur setiap aku akan mengikuti uji coba masuk perguruan tinggi. Di
persimpangan jalan seseorang dengan terburu-buru menyenggol tanganku hingga tas
yang kubawa terjatuh.
“Sorry, ah aku tidak bermaksud
menyenggolmu.” Ia mengambilkan tempat pensil dan kartuku yang terjatuh, dan wajah
kami berpapasan saat saling menoleh satu sama lain.
“Ehm,
kamu?” kata lelaki bermata onyx itu.
“Koushiro-san?” tersipu malu dan mungkin warna merah sudah mendominasi raut wajahku.
Dengan nada sedikit terbata aku bertanya
padanya. “Uhm, Koushiro-san kamu mau
ke mana kok terburu-buru ?”
“Aku mau pergi ke Kyoto University Centre.”
“Ah aku juga menuju ke sana, hahaha ayo
jalan bareng.”
“Baiklah.”
Aku berbicara banyak hal
dengannya mulai dari berkenalan hingga kenapa aku bisa memanggilnya Kazu-kun sambil berjalan ke stasiun
Yodobayashi. Selama di jalan aku menyadari bahwa dia tidak semirip Kazu-kun mungkin karena fantasiku aku
menjadikannya sebagai korban khayalan. Di sana kami menaiki kereta yang sama
duduk bersebelahan sambil membaca buku pelajaran, tetapi dia mengalihkan
konsentrasiku dengan menanyakan.
“Sawano-san fakultas apa yang akan kamu pilih di
Kyoto University?”
“Aku akan memilih
fakultas sastra, bagaimana denganmu?”
“Aku? Ehm aku akan
memilih fakultas hukum. Aku ingin menjadi prosecutor”
“Wah, you will be a great prosecutor Koushiro-san.”
“Arigatou Sawano-san.”
Akhirnya
sampai di stasiun Sanjo Kyoto setelah menghabiskan perjalan kurang lebih 60
menit, lalu berdiri menunggu giliran untuk keluar dari gerbong kereta. Kami
berdua keluar dan berjalan tanpa sepatah kata sepertinya kami sudah kehabisan
topik untuk dibicarakan tetapi selama perjalan menyusuri jalanan ramai munuju
Kyoto University Centre terkadang mata kami saling melirik satu sama lain dan
membuat wajah kami menyembulkan rona merah, apakah aku mulai tertarik dengannya
atau hanya kebetulan saja, sepertinya aku akan melupakan Kazu-kun untuk sementara atau mungkin
selamanya.
Waktu menunjukkan pukul 10.35 kami masih
memiliki waktu sekitar 25 menit sebelum uji coba dimulai, ruang tes
Koushiro-san berada di lantai 3 ruang A. 301 sedangkan aku berada di lantai 2
ruang A. 203 oleh karena itu ia mendahului untuk naik ke ruangan tesnya. Lalu
aku menunggu bel masuk berbunyi sambil duduk di beberapa bangku yang telah
dipersiapkan oleh panitia, di sini aku melihat banyak siswa-siswi seumuranku
dari berbagai sekolah di Kyoto ataupun daerah lain sepertiku. Jam sudah
menunjukkan pukul 11 dan bel masukpun berbunyi aku memasukkan buku yang sedari
tadi aku baca sambil menunggu, akhirnya para siswa sudah memasuki ruangan dan
tespun dimulai.
“Hai Sawano-san bagaimana tadi tesnya?” tiba-tiba seseorang mengagetkanku tepat
di depan pintu keluar.
“Ya begitulah, sehubung aku tidak menyukai
matematika sepertinya nilaiku akan turun dari uji coba minggu lalu.” Aku
menenangkan jantungku yang hampir jatuh karena tingkah Koushiro.
“Bagaimana denganmu? Sepertinya tes tadi
hanya sebagian kecil dari otakmu ya? Hahaha.” Kataku dengan nada sedikit
mengejeknya.
“Apa kamu berniat mengejekku ya? Kalo soal
tadi sih di bagian hukumnya ada pasal yang aku kurang mengerti jadi aku biarkan
kosong saja.”
“Ah tidak-tidak aku tidak mengejekmu kok,
aku tahu muka orang jenius itu seperti apa, tenang saja kamu termasuk di
dalamnya.”
Kami berbicara seolah sudah saling mengenal
satu sama lain padahal baru bertemu minggu ini dan kami larut dalam pertemanan
yang singkat. Sepulang dari Kyoto University kami pergi mencari tempat untuk
mengisi perut yang sedari tadi bergemuruh dan ternyata kami berdua memang belum
sarapan, kami berhenti di sebuah kedai ramen yang berada sekitar 500 kilometer
keluar dari kawasan perguruan tinggi ternama itu. Ramai, tentu saja mungkin
hampir 25 persen siswa-siswi yang sudah menyelesaikan tes akan mengunjungi
kedai ramen ini untuk makan siang, kami memesan dua ramen berukuran sedang
dengan ekstra daging sapi yang begitu menggoda membuat mata, hidung, dan mulut
kami tidak bisa menahan nafsu makan yang sudah sangat memuncak ini, setelah
ramen siap kami mencari meja kosong untuk memakannya, duduk dan mengambil
sumpit yang berada di tengah meja.
“itadakimasu!”
Koushiro
duduk di sebelahku ia makan dengan penuh nikmat seakan telah dikaruniai
keajaiban oleh Kami-sama. Tiba-tiba
seseorang menabrak punggungku karena keramaian yang mungkin sebentar lagi
membuat kedai ini meledak, dan dengan sepersekian setelah itu aku merasakan ada
tangan yang menahan tubuhku agar wajahku tidak masuk ke dalam mangkuk ramen,
tak salah lagi itu tangan Koushiro aku menolehkan kepalaku dan ia berkata.
“Kalo
makan di tempat ramai seperti ini usahakan buat tubuhmu tegap dan kuat kalau tidak
mau makananmu terbuang sia-sia.”
“Hahaha, terima kasih Koushiro-san.”
Aku
melihat wajahnya sudah terdapat rona merah ia pun melepaskan tangannya dari
bahuku, melihat wajahnya sedikit malu membuatku tertawa kecil, ada hal yang
masih membuat aku penasaran dan ingin aku tanyakan aku pun berhenti makan
sejenak.
“Uhm Koushiro-san.”
“Ya, ada
apa?” Ternyata ia telah menyelesaikan santapannya.
“Tadi malam apakah kamu menambahkan akun e-mail milikku ke dalam kontakmu?” tanyaku
sambil mengambil handphone dari dalam
tasku.
“Eh, ketahuan ya! Hahaha iya kemarin sore
aku tak sengaja melihat ada secarik kertas di gantungan kuncimu isinya alamat e-mail ya aku coba menyimpannya dulu dan
malamnya kucoba menambahkannya ternyata benar itu milikmu.” Ujarnya sambil
tersenyum.
“Aku sampai kaget lho,
kita baru bertemu di hari itu dan tidak membicarakan tentang kontak
masing-masing tetapi kamu malah menambahkan akunku kan aku kira kamu stalker, hahaha.”
“Tidaklah emang aku orang semengerikan itu,
ada-ada saja kamu!”
Sambil tersenyum dia
mengelus rambut sebahuku, aku kembali tersipu malu tetapi aku tidak memalingkan
wajahku darinya dari pada itu aku segera membalas senyum manisnya. Kami pulang
menggunakan kereta lagi tentunya menuju stasiun Sanjo untuk kembali ke stasiun
Yodoyabashi Osaka, kami tidak langsung masuk ke dalam gerbong kereta karena
kereta yang akan membawa kami pulang belum tiba di stasiun Sanjo, sekarang
sudah pukul 03.20 kereta akan tiba kurang lebih 10 menit lagi, kami mencari
bangku kosong tetapi hampir semua bangku terisi oleh karyawan dan karyawati
yang pulang sehabis bekerja seharian. Di pojok kanan dekat pembelian karcis
kereta terdapat bangku kosong tetapi hanya tersisa satu saja.
“A…akiko-san silahkan kamu duduk di sini, aku
akan berdiri di sampingmu.”
“Ehm,
Koushiro-san sekarang sudah berani
memanggil nama depanku ya, hahahaha.”
“Bagaimana
boleh atau tidak kupanggil seperti itu? A..aki..ko-san juga boleh memanggilku dengan Ikuto-san atau Ikuto-kun kok.”
“Boleh,
lebih baik kok kita bisa lebih dekat jika memanggil nama depan kita, bagaimana
kalau aku panggil Ikuto-kun saja dan kamu juga boleh memanggilku Akiko-chan.”
“Sungguh?
Sankyu Akiko-chan!”
Sekali
lagi dia melambungkanku dengan senyumannya. Akhirnya kereta yang ditunggu telah
datang berbondong-bondong orang masuk ke dalam kereta hanya dalam beberapa
menit kereta sudah penuh orang-orang, aku dan Ikuto sangat beruntung karena
mendapatkan tempat duduk di dalam kereta, sampainya di stasiun Yodobayashi kami
turun dan berjalan ke persimpangan jalan kami berpisah dan berjanji akan saling
menghubungi.
Beberapa
bulanpun telah berlalu sejak kejadian yang menurutku seperti drama kutukan
sekarang telah menjadi drama kehidupanku yang lahir kembali, aku dan Ikuto
semakin dekat walaupun status kami masih teman, aku menyadari bahwa aku
menyukainya dengan kata suki desu sepertinya
dia juga demikian tapi kami masih mempertahankan pertemanan kami sampai
waktunya tiba dan kami akan memberitahukannya secara langsung, lalu yang paling
mengejutkan kami berdua lulus ujian masuk Universitas Kyoto walaupun jalur
masuk kami berbeda dia lulus pada tes pertama sedangkan aku pada tes yang
ketiga ya perbedaan antara siswa jenius dengan siswi biasa-biasa saja juga
terlihat jelas.
Untuk
kenangan fantasiku yang dikarenakan kepergian Hiroyuki Kazuto aku sudah
merelakannya untuk pergi, ini memang sudah takdir antara aku dan Kazu yang
sudah tertulis di catatan Kami-sama.
Kepergian Kazu yang sebelumnya membuatku narrow-minded
sehingga aku merasa bersalah, padahal
dia telah menyelamatkanku di belakang palang rel kereta api yang
kisahnya telah berakhir.
“Arigatou Hiroyuki Kazuto-kun.”
Note: *) Kami-sama :
Tuhan/Dewa
*) Oka-san : Ibu
*) Otou-san :
Ayah
*) Nee-chan :
Kakak perempuan
*) –san, -kun, -chan : Merupakan panggilan untuk menghormati orang
lain di Jepang.
*)
Suki desu : Suka dalam Bahasa jepang.

No comments:
Post a Comment