Blogger Widgets

Wednesday, 19 August 2015

Railways of Reminding
(oleh Adelia Aninda Putri)
Tempat ini menjadi saksi bisu perkenalan dan pertemuan terakhir bagi kita. Apalah arti senyuman yang selalu kau berikan dikala kesedihan melandaku? Apalah arti kerinduan yang selama ini kau umbar padaku? Aku selalu berpikir semua ini adalah kesalahanku, memutuskan apa yang seharusnya tak aku lakukan. Sepertinya, kau akan selalu pergi dariku. Di belakang palang rel kereta api ini aku masih memikirkan apa yang telah aku perbuat terhadapmu, ini bukan yang aku inginkan, di manakah dirimu? Aku tahu kau sudah tidak bisa mendengarkanku. Ketika palang kereta masih menahan, aku melihat bayangmu dalam kereta, tidak perlu pikir panjang aku langsung berlari menuju stasiun.
Setibanya di sana kereta yang aku cari sudah meninggalkan stasiun ini, aku berlari menyusuri setiap sudut stasiun, aku tak menemukan apa yang aku cari menyedihkan aku sangat menyedihkan. Dalam keramaian yang mengusik ragaku ini aku melihat bayangnya lagi, aku berusaha mengelak desakan orang-orang yang baru saja keluar dari gerbong kereta, selepasnya aku dari desakan tadi aku meliat sekitarku dan aku bertanya-tanya.
"Dimana kau? Aku ingin mengatakan sesuatu, apakah tak mungkin lagi bagiku untuk mengatakannya padamu?"
Hatiku bergejolak ingin menangis. Aku seperti kalah sebelum berperang, sangat memalukan. Aku keluar dari stasiun, aku melayang dalam lamunanku dan tak sengaja menabrak seorang pemuda, aku pun terbangun dari lamunan dan menarik nafas dalam, air mataku dengan sendirinya keluar. Aku pun tak bisa menahannya terlalu sakit untuk ditahan, tanpa sadar aku memeluk pemuda itu yang tak lain Hiroyuki Kazuto, Kazu-kun ada di hadapanku tetapi ia seperti tak mengenaliku, dia tidak membalas pelukan yang aku berikan. Perlahan aku melepaskan tanganku dari bahunya. Aku terdiam dia hanya melihatku dengan tatapan bingung, aku segera berdiri dan meminta maaf.
"Sumimasen!"
 Mataku terpejam ketika aku menundukkan kepala dan segera pergi dari tempat itu. Aku tidak melihat wajah pemuda itu,  aku ketakutan dan merasa hina. Lalu aku berhenti di sebuah mini market, rasa dahagaku mulai memuncak karena lari dan rasa tegang tadi.
Sepulangnya aku dari mini market aku duduk sebentar di taman untuk merenungkan kejadian tadi, tak lama kemudian seorang pemuda memakai jaket biru donker menghampiriku, ia berkata.
"Hei, ini milikmu kan?" Ia mengembalikan gantungan kunciku yang sepertinya tadi terjatuh.
"Ya benar, ini milikku." Aku melihat wajahnya tak salah dia adalah Kazu-kun.
"Kazu-kun apakah kau mengenalku? Ini aku Akiko, Sawano Akiko." Aku langsung bertanya, basa basi sudah tak diperlukan, aku melihat kebingungan dari raut wajahnya, ia berkata.
"Sawano Akiko? Ini pertama kalinya aku bertemu denganmu. Maaf ya atas kejadian tadi."
"Pertama kalinya? Tetapi kita selalu menghabiskan waktu bersama. Dari mana saja kamu?" Dengan nada merendah aku ingin memastikannya bahwa aku tak salah.
"Dari mana? Aku dari Sapporo. Bagaimana denganmu? Apakah kamu warga lokal disini?"
“Ya, tentu saja.”
Aku masih tak percaya aku masih bersiteguh bahwa ia adalah Kazu-kun yang selama ini aku kenal, aku terdiam sejenak memainkan jemariku diatas bangku mengalihkan bola mataku ke arah pohon sakura yang mengering.
"By the way namaku Koushiro Ikuto, yoroshiku Sawano-san. Uhm, aku harus pergi sekarang, see you." Dia meninggalkanku di taman aku tersenyum pahit dan mengangguk seakan menyetujui keputusannya.
"kreekkk, kreekk" Suara tanganku meremas kaleng soda merunduk dan kembali menyesal. Aku yang selama ini bodoh mengingat, menangisi, mencari, menggapaimu kembali adalah hal yang mustahil yang ada hanya kehilangan sosokmu aku rasa ini hanya fantasi semata yang belum bisa aku sembuhkan dengan berbagai macam ramuan atau sihir cinta.
Tadaimasu
Okaeri Akiko nee-chan. Maukah kakak menemaniku bermain setelah makan malam?”
“Uhm, maaf Akicha mungkin lain waktu ya, besok aku ada tes. Dimana Oka-san dan Otou-san? Akankah mereka pulang malam ini?”
“Mereka tidak pulang. Oka-san meneleponku sebelum nee-chan pulang, mereka mempunyai urusan yang harus dikerjakan dan Oka-san bilang mereka akan pulang ke rumah secepatnya.”
Aku melihat wajah sedih Akicha, adikku yang selalu setia menunggu Ayah dan Ibu pulang. Semenjak Ayah menduduki kursi CEO perusahaan ternama di Osaka, Ibu ikut menemani Ayah bekerja karena beliau terkadang kelelahan sehingga jatuh sakit. Sehingga aku, Akicha, dan dua orang bibi yang ada di rumah.
Sesampainya aku di kamar seusai makan malam aku langsung menjatuhkan diriku ke atas kasur yang begitu memikat hati, tak sempat aku untuk membersihkan diri segera kuambil buku Sastra Jepang milikku, tetapi. Brrrt, brrrt, brrrt suara handphone terasa bergetar di atas meja belajarku. Saat kudapati e-mail pemberitahuan bahwa akun e-mail milikku telah ditambahkan ke dalam kontak seseorang bernama Koushiro Ikuto, tersentak kaget mataku tak bisa berpaling dari layar handphone dan aku tak bisa mengembalikannya pada menu layar utama, aku masih terdiam mecoba berpikir logis, ini bukan fantasi aku tak bisa menghilangkannya begitu saja? Kami-sama kumohon apakah ini hukuman untukku yang lari dari kelamnya masa lalu.
            Keesokan harinya aku melewatkan jam sarapan pagi, aku langsung bergegas mengambil sepasang sepatu hitamku dan pergi ke pusat uji coba masuk perguruan tinggi.
            “Ittekimasu!”
            Kubuka pagar rumah dan berlari kecil menuju stasiun Yodoyabashi, walaupun jarak antara rumah dan stasiun bisa dibilang cukup memakan waktu apa boleh buat ini memang jalur setiap aku akan mengikuti uji coba masuk perguruan tinggi. Di persimpangan jalan seseorang dengan terburu-buru menyenggol tanganku hingga tas yang kubawa terjatuh.
            “Sorry, ah aku tidak bermaksud menyenggolmu.” Ia mengambilkan tempat pensil dan kartuku yang terjatuh, dan wajah kami berpapasan saat saling menoleh satu sama lain.
            “Ehm, kamu?” kata lelaki bermata onyx itu.
“Koushiro-san?” tersipu malu dan mungkin warna merah sudah mendominasi raut wajahku.
Dengan nada sedikit terbata aku bertanya padanya. “Uhm, Koushiro-san kamu mau ke mana kok terburu-buru ?”
“Aku mau pergi ke Kyoto University Centre.”
“Ah aku juga menuju ke sana, hahaha ayo jalan bareng.”
“Baiklah.”
Aku berbicara banyak hal dengannya mulai dari berkenalan hingga kenapa aku bisa memanggilnya Kazu-kun sambil berjalan ke stasiun Yodobayashi. Selama di jalan aku menyadari bahwa dia tidak semirip Kazu-kun mungkin karena fantasiku aku menjadikannya sebagai korban khayalan. Di sana kami menaiki kereta yang sama duduk bersebelahan sambil membaca buku pelajaran, tetapi dia mengalihkan konsentrasiku dengan menanyakan.
“Sawano-san fakultas apa yang akan kamu pilih di Kyoto University?”
“Aku akan memilih fakultas sastra, bagaimana denganmu?”
“Aku? Ehm aku akan memilih fakultas hukum. Aku ingin menjadi prosecutor
“Wah, you will be a great prosecutor Koushiro-san.”
Arigatou Sawano-san.”
            Akhirnya sampai di stasiun Sanjo Kyoto setelah menghabiskan perjalan kurang lebih 60 menit, lalu berdiri menunggu giliran untuk keluar dari gerbong kereta. Kami berdua keluar dan berjalan tanpa sepatah kata sepertinya kami sudah kehabisan topik untuk dibicarakan tetapi selama perjalan menyusuri jalanan ramai munuju Kyoto University Centre terkadang mata kami saling melirik satu sama lain dan membuat wajah kami menyembulkan rona merah, apakah aku mulai tertarik dengannya atau hanya kebetulan saja, sepertinya aku akan melupakan Kazu-kun untuk sementara atau mungkin selamanya.
Waktu menunjukkan pukul 10.35 kami masih memiliki waktu sekitar 25 menit sebelum uji coba dimulai, ruang tes Koushiro-san berada di lantai 3 ruang A. 301 sedangkan aku berada di lantai 2 ruang A. 203 oleh karena itu ia mendahului untuk naik ke ruangan tesnya. Lalu aku menunggu bel masuk berbunyi sambil duduk di beberapa bangku yang telah dipersiapkan oleh panitia, di sini aku melihat banyak siswa-siswi seumuranku dari berbagai sekolah di Kyoto ataupun daerah lain sepertiku. Jam sudah menunjukkan pukul 11 dan bel masukpun berbunyi aku memasukkan buku yang sedari tadi aku baca sambil menunggu, akhirnya para siswa sudah memasuki ruangan dan tespun dimulai.
“Hai Sawano-san bagaimana tadi tesnya?” tiba-tiba seseorang mengagetkanku tepat di depan pintu keluar.
“Ya begitulah, sehubung aku tidak menyukai matematika sepertinya nilaiku akan turun dari uji coba minggu lalu.” Aku menenangkan jantungku yang hampir jatuh karena tingkah Koushiro.
“Bagaimana denganmu? Sepertinya tes tadi hanya sebagian kecil dari otakmu ya? Hahaha.” Kataku dengan nada sedikit mengejeknya.
“Apa kamu berniat mengejekku ya? Kalo soal tadi sih di bagian hukumnya ada pasal yang aku kurang mengerti jadi aku biarkan kosong saja.”
“Ah tidak-tidak aku tidak mengejekmu kok, aku tahu muka orang jenius itu seperti apa, tenang saja kamu termasuk di dalamnya.”
Kami berbicara seolah sudah saling mengenal satu sama lain padahal baru bertemu minggu ini dan kami larut dalam pertemanan yang singkat. Sepulang dari Kyoto University kami pergi mencari tempat untuk mengisi perut yang sedari tadi bergemuruh dan ternyata kami berdua memang belum sarapan, kami berhenti di sebuah kedai ramen yang berada sekitar 500 kilometer keluar dari kawasan perguruan tinggi ternama itu. Ramai, tentu saja mungkin hampir 25 persen siswa-siswi yang sudah menyelesaikan tes akan mengunjungi kedai ramen ini untuk makan siang, kami memesan dua ramen berukuran sedang dengan ekstra daging sapi yang begitu menggoda membuat mata, hidung, dan mulut kami tidak bisa menahan nafsu makan yang sudah sangat memuncak ini, setelah ramen siap kami mencari meja kosong untuk memakannya, duduk dan mengambil sumpit yang berada di tengah meja.
itadakimasu!”
  Koushiro duduk di sebelahku ia makan dengan penuh nikmat seakan telah dikaruniai keajaiban oleh Kami-sama. Tiba-tiba seseorang menabrak punggungku karena keramaian yang mungkin sebentar lagi membuat kedai ini meledak, dan dengan sepersekian setelah itu aku merasakan ada tangan yang menahan tubuhku agar wajahku tidak masuk ke dalam mangkuk ramen, tak salah lagi itu tangan Koushiro aku menolehkan kepalaku dan ia berkata.
            “Kalo makan di tempat ramai seperti ini usahakan buat tubuhmu tegap dan kuat kalau tidak mau makananmu terbuang sia-sia.”
            “Hahaha, terima kasih Koushiro-san.”
            Aku melihat wajahnya sudah terdapat rona merah ia pun melepaskan tangannya dari bahuku, melihat wajahnya sedikit malu membuatku tertawa kecil, ada hal yang masih membuat aku penasaran dan ingin aku tanyakan aku pun berhenti makan sejenak.
            “Uhm Koushiro-san.”
            “Ya, ada apa?” Ternyata ia telah menyelesaikan santapannya.
“Tadi malam apakah kamu menambahkan akun e-mail milikku ke dalam kontakmu?” tanyaku sambil mengambil handphone dari dalam tasku.
“Eh, ketahuan ya! Hahaha iya kemarin sore aku tak sengaja melihat ada secarik kertas di gantungan kuncimu isinya alamat e-mail ya aku coba menyimpannya dulu dan malamnya kucoba menambahkannya ternyata benar itu milikmu.” Ujarnya sambil tersenyum.
“Aku sampai kaget lho, kita baru bertemu di hari itu dan tidak membicarakan tentang kontak masing-masing tetapi kamu malah menambahkan akunku kan aku kira kamu stalker, hahaha.”
“Tidaklah emang aku orang semengerikan itu, ada-ada saja kamu!”
Sambil tersenyum dia mengelus rambut sebahuku, aku kembali tersipu malu tetapi aku tidak memalingkan wajahku darinya dari pada itu aku segera membalas senyum manisnya. Kami pulang menggunakan kereta lagi tentunya menuju stasiun Sanjo untuk kembali ke stasiun Yodoyabashi Osaka, kami tidak langsung masuk ke dalam gerbong kereta karena kereta yang akan membawa kami pulang belum tiba di stasiun Sanjo, sekarang sudah pukul 03.20 kereta akan tiba kurang lebih 10 menit lagi, kami mencari bangku kosong tetapi hampir semua bangku terisi oleh karyawan dan karyawati yang pulang sehabis bekerja seharian. Di pojok kanan dekat pembelian karcis kereta terdapat bangku kosong tetapi hanya tersisa satu saja.
            “A…akiko-san silahkan kamu duduk di sini, aku akan berdiri di sampingmu.”
            “Ehm, Koushiro-san sekarang sudah berani memanggil nama depanku ya, hahahaha.”
            “Bagaimana boleh atau tidak kupanggil seperti itu? A..aki..ko-san juga boleh memanggilku dengan Ikuto-san atau Ikuto-kun kok.”
            “Boleh, lebih baik kok kita bisa lebih dekat jika memanggil nama depan kita, bagaimana kalau aku panggil Ikuto-kun saja dan kamu juga boleh memanggilku Akiko-chan.”
            “Sungguh? Sankyu Akiko-chan!”
            Sekali lagi dia melambungkanku dengan senyumannya. Akhirnya kereta yang ditunggu telah datang berbondong-bondong orang masuk ke dalam kereta hanya dalam beberapa menit kereta sudah penuh orang-orang, aku dan Ikuto sangat beruntung karena mendapatkan tempat duduk di dalam kereta, sampainya di stasiun Yodobayashi kami turun dan berjalan ke persimpangan jalan kami berpisah dan berjanji akan saling menghubungi.
            Beberapa bulanpun telah berlalu sejak kejadian yang menurutku seperti drama kutukan sekarang telah menjadi drama kehidupanku yang lahir kembali, aku dan Ikuto semakin dekat walaupun status kami masih teman, aku menyadari bahwa aku menyukainya dengan kata suki desu sepertinya dia juga demikian tapi kami masih mempertahankan pertemanan kami sampai waktunya tiba dan kami akan memberitahukannya secara langsung, lalu yang paling mengejutkan kami berdua lulus ujian masuk Universitas Kyoto walaupun jalur masuk kami berbeda dia lulus pada tes pertama sedangkan aku pada tes yang ketiga ya perbedaan antara siswa jenius dengan siswi biasa-biasa saja juga terlihat jelas.
            Untuk kenangan fantasiku yang dikarenakan kepergian Hiroyuki Kazuto aku sudah merelakannya untuk pergi, ini memang sudah takdir antara aku dan Kazu yang sudah tertulis di catatan Kami-sama. Kepergian Kazu yang sebelumnya membuatku narrow-minded sehingga aku  merasa bersalah, padahal dia telah menyelamatkanku di belakang palang rel kereta api yang kisahnya telah berakhir.
            “Arigatou Hiroyuki Kazuto-kun.”
Note:    *) Kami-sama  : Tuhan/Dewa
                 *) Oka-san        : Ibu
                *) Otou-san       : Ayah
                *) Nee-chan       : Kakak perempuan
                *) –san, -kun, -chan       : Merupakan panggilan untuk menghormati orang lain di Jepang.

                *) Suki desu        : Suka dalam Bahasa jepang.

No comments:

Post a Comment